HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT GIGI DENGAN KETAKUTAN PASIEN ANAK KELAS 4 - 6 PRE EXO GIGI SULUNG DI UPTD PUSKESMAS PULUTAN KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA TENGAH
Abstract
Dalam memberikan pelayanan, tenaga kesehatan berkomunikasi dengan pasien, keluarga, dan tim medis lainnya untuk menyelesaikan masalah yang dialami pasien (Cangara, 2020). Komunikasi adalah proses bertukar informasi yang dapat mengubah atau membentuk perilaku sesuai dengan pesan yang disampaikan. Intinya, komunikasi adalah bagian penting dari hubungan sosial karena melibatkan interaksi dan saling memengaruhi antar manusia. Tenaga kesehatan perlu memahami hal-hal yang mendasari interaksi tenaga kesehatan dengan pasien serta hambatan yang dapat terjadi selama terjalinya hubungan, sehingga tenaga kesehatan dapat membina hubungan terapeutik dalam membantu pasien untuk mengatasi masalahnya (Kusnanto, 2024). Tujuan Penelitian Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Gigi Dengan Ketakutan Pasien Anak Kelas 4 - 6 Pre Exo Gigi Sulung Di UPTD Puskesmas Pulutan Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa berbagai sikap terapis gigi memiliki pengaruh yang berbeda terhadap ketakutan anak. Keterbukaan terapis ternyata memiliki hubungan signifikan dengan ketakutan, di mana anak justru lebih cemas saat diberikan informasi medis yang terlalu terbuka, kemungkinan karena informasi tersebut dianggap menakutkan untuk usia mereka. Empati juga menunjukkan hubungan signifikan, namun empati yang berlebihan tanpa pengelolaan emosi justru dapat membuat anak menyerap kecemasan orang dewasa, sehingga meningkatkan rasa takut. Sebaliknya, sikap positif dari terapis gigi, seperti bersikap ramah, optimis, dan menyenangkan, menunjukkan hubungan paling signifikan dalam menurunkan ketakutan anak. Di sisi lain, sikap dukungan dan kesetaraan perlakuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap ketakutan. Dukungan verbal semata belum cukup untuk mengurangi kecemasan, sementara persepsi dan pengalaman pribadi anak lebih dominan dalam membentuk ketakutan dibandingkan perlakuan yang setara.

