https://jurnal.itkesmusidrap.ac.id/JUFAL/issue/feed Jurnal Farmasi Al-Ghafiqi 2026-08-29T15:09:15+08:00 Dewi Lidia dewilidia13@gmail.com Open Journal Systems <p data-start="123" data-end="365"><strong data-start="123" data-end="211">JUFAL merupakan Jurnal dari ITKES Muhammadiyah Sidrap dengan Scope Kimia, Farmasi. /</strong><br data-start="211" data-end="214"> <em data-start="214" data-end="363">JUFAL (Jurnal Farmasi Al-Ghafiqi) is a scientific journal published by ITKeS Muhammadiyah Sidrap, focusing on the fields of Chemistry and Pharmacy.</em></p> <p data-start="367" data-end="499"><strong data-start="367" data-end="437">Terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Agustus. /</strong><br data-start="437" data-end="440"> <em data-start="440" data-end="497">It is published twice a year, in February and August.</em></p> <p data-start="501" data-end="826"><strong data-start="501" data-end="670">Jurnal ini bertujuan untuk menyebarluaskan hasil penelitian berkualitas tinggi yang berkontribusi terhadap pengembangan ilmu kefarmasian dan disiplin ilmu terkait. /</strong><br data-start="670" data-end="673"> <em data-start="673" data-end="824">The journal aims to disseminate high-quality research findings that contribute to the advancement of pharmaceutical sciences and related disciplines.</em></p> <p data-start="828" data-end="1097"><strong data-start="828" data-end="971">JUFAL menerima artikel penelitian asli, artikel tinjauan, laporan kasus, dan komunikasi singkat yang relevan dengan ruang lingkup jurnal. /</strong><br data-start="971" data-end="974"> <em data-start="974" data-end="1095">JUFAL welcomes original research articles, review papers, case reports, and short communications relevant to its scope.</em></p> <p data-start="1534" data-end="1718">&nbsp;</p> <h3 data-start="160" data-end="210"><strong data-start="164" data-end="208">Proses Peer Review / Peer Review Process</strong></h3> <p data-start="212" data-end="588">Semua naskah yang dikirimkan ke redaksi akan melalui <strong data-start="265" data-end="290">tahap peninjauan awal</strong> oleh Dewan Editorial untuk memastikan kesesuaian dengan ruang lingkup, pedoman, dan standar etika jurnal. /<br data-start="398" data-end="401"> <em data-start="401" data-end="586">All manuscripts submitted to the editorial office undergo an initial screening by the Editorial Board to ensure conformity with the journal’s scope, guidelines, and ethical standards.</em></p> <p data-start="590" data-end="863">Naskah yang memenuhi kriteria ini kemudian diteruskan kepada <strong data-start="651" data-end="668">mitra bestari</strong> untuk dievaluasi melalui <strong data-start="694" data-end="726">proses tinjauan double-blind</strong>. /<br data-start="729" data-end="732"> <em data-start="732" data-end="861">Manuscripts that meet these criteria are then forwarded to peer reviewers for evaluation through a double-blind review process.</em></p> <p data-start="865" data-end="1136">Selama proses tinjauan, setiap naskah dinilai berdasarkan <strong data-start="923" data-end="999">kualitas ilmiah, orisinalitas, ketelitian metodologi, dan akurasi teknis</strong>. /<br data-start="1002" data-end="1005"> <em data-start="1005" data-end="1134">During the review, each manuscript is assessed for scientific merit, originality, methodological rigor, and technical accuracy.</em></p> <p data-start="1138" data-end="1300">Berdasarkan rekomendasi mitra bestari, Dewan Editorial dapat memutuskan untuk: /<br data-start="1218" data-end="1221"> <em data-start="1221" data-end="1298">Based on the reviewers’ recommendations, the Editorial Board may decide to:</em></p> <ul data-start="1301" data-end="1494"> <li class="show" data-start="1301" data-end="1376"> <p data-start="1303" data-end="1376">Menerima naskah tanpa revisi / <em data-start="1334" data-end="1374">Accept the manuscript without revision</em></p> </li> <li class="show" data-start="1377" data-end="1449"> <p data-start="1379" data-end="1449">Meminta revisi minor atau mayor / <em data-start="1413" data-end="1447">Request minor or major revisions</em></p> </li> <li class="show" data-start="1450" data-end="1494"> <p data-start="1452" data-end="1494">Menolak naskah / <em data-start="1469" data-end="1492">Reject the manuscript</em></p> </li> </ul> <p data-start="1496" data-end="1692">Penulis diberi kesempatan untuk merevisi naskah mereka sesuai komentar dari mitra bestari. /<br data-start="1588" data-end="1591"> <em data-start="1591" data-end="1690">Authors are given the opportunity to revise their manuscripts in response to reviewers’ comments.</em></p> <p data-start="1694" data-end="1876">Proses tinjauan ini umumnya memakan waktu maksimal <strong data-start="1745" data-end="1759">satu bulan</strong> sejak pengajuan awal. /<br data-start="1783" data-end="1786"> <em data-start="1786" data-end="1874">The entire review process typically takes up to one month from the initial submission.</em></p> https://jurnal.itkesmusidrap.ac.id/JUFAL/article/view/2049 LITERATUR REVIEW: PERKEMBANGAN BASIS SUPPOSITORIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK SERTA PELEPASAN OBAT 2026-08-29T15:06:30+08:00 Alif ramadhan Alifre850@gmail.com <p>Suppositoria merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang digunakan melalui rute rektal, vaginal, maupun uretra sebagai alternatif penghantaran obat untuk menghasilkan efek lokal maupun sistemik. Keberhasilan terapi menggunakan suppositoria sangat dipengaruhi oleh pemilihan basis, karena basis berperan dalam menentukan karakteristik fisik, stabilitas, kenyamanan penggunaan, serta profil pelepasan zat aktif. Artikel review ini bertujuan untuk mengkaji berbagai jenis basis suppositoria, meliputi basis lipofilik dan hidrofilik, serta menganalisis karakteristik, keunggulan, keterbatasan, dan pengaruhnya terhadap pelepasan obat. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah yang diperoleh dari basis data Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan SpringerLink. Literatur yang digunakan merupakan publikasi tahun 2020–2026 dan dipilih berdasarkan relevansi terhadap topik, sehingga diperoleh sebanyak 25 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa basis lipofilik, seperti oleum cacao dan hard fat, memiliki kemampuan meleleh pada suhu tubuh sehingga sesuai untuk zat aktif yang larut dalam air, sedangkan basis hidrofilik, seperti polyethylene glycol (PEG) dan glycerinated gelatin, melarut secara bertahap dalam cairan tubuh sehingga memberikan profil pelepasan obat yang berbeda. Selain itu, pemilihan basis juga dipengaruhi oleh sifat fisikokimia zat aktif, tujuan terapi, stabilitas sediaan, dan karakteristik penggunaan. Dengan demikian, pemilihan basis suppositoria yang tepat merupakan faktor penting dalam menghasilkan sediaan yang memenuhi persyaratan mutu, memberikan pelepasan obat yang optimal, serta mendukung efektivitas dan keamanan terapi.</p> 2026-08-11T10:05:59+08:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.itkesmusidrap.ac.id/JUFAL/article/view/2320 UJI TOKSISITAS EKSTRAK METANOL BUNGA PRASMAN (Eupatorium triplinerve) PADA LARVA UDANG (Artemia salina) 2026-08-29T15:06:30+08:00 nur hijrah nasir nasirhijrah18@gmail.com <p>Uji toksisitas merupakan salah satu metode skrining awal yang digunakan untuk mengetahui potensi biologis suatu bahan alam sebelum dikembangkan sebagai kandidat obat atau sumber senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai LC50 dan tingkat toksisitas ekstrak metanol bunga prasman <em>(Eupatorium triplinerve</em>) terhadap larva <em>Artemia salina</em> menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan analisis probit. Pengujian dilakukan menggunakan beberapa variasi konsentrasi ekstrak, kemudian jumlah kematian larva dihitung setelah 24 jam pemaparan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak diikuti dengan meningkatnya mortalitas larva, sehingga menunjukkan adanya hubungan dosis-respons. Berdasarkan analisis probit diperoleh nilai LC50 sebesar ±2.848 mg/L (ppm), termasuk dalam kategori sedikit beracun (slightly toxic). Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak metanol bunga prasman memiliki aktivitas toksik terhadap larva <em>Artemia salina</em>, namun dengan tingkat toksisitas yang relatif rendah.</p> 2026-08-11T10:33:00+08:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.itkesmusidrap.ac.id/JUFAL/article/view/1984 Alfiranti Prayunita Perbandingan Efektivitas Antidiare Daun Jambu Biji (psidium guajava L.) dan Daun Salam (Syzygium polyanthum W.) pada Mencit (Mus musculus) 2026-08-29T15:06:30+08:00 Alfiranti Prayunita alfirantyprayunita@gmail.com <p>Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi tinggi, terutama di negara berkembang. Diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan konsistensi tinja yang encer atau berair lebih dari tiga kali sehari, biasanya disertai peningkatan frekuensi dan penurunan volume tinja. Daun jambu biji <em>(Psidium guajava</em> L<em>.)</em> dan daun salam <em>(Syzygium polyanthum</em> W.<em>) </em>merupakan tanaman obat tradisional yang mengandung flavonoid, tanin, saponin, dan minyak atsiri yang berpotensi sebagai antidiare. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas antidiare rebusan daun jambu biji dan daun salam, baik secara tunggal maupun kombinasi dengan perbandingan 1:1, pada mencit (<em>Mus musculus</em>) yang diinduksi diare. Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan 15 ekor mencit jantan berbobot 20–30 gram yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kontrol negatif (Na CMC 1%), kontrol positif (loperamid HCl 2 mg), rebusan daun jambu biji, rebusan daun salam, dan kombinasi rebusan 1:1. Diare diinduksi dengan minyak jarak 0,5 mL secara peroral, kemudian diamati frekuensi diare dan konsistensi feses selama 4 jam. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan One Way ANOVA. Hasil penelitian ini menunjukkan seluruh kelompok perlakuan mampu memperbaiki konsistensi feses dan menurunkan frekuensi defekasi dibandingkan kontrol negatif (10,7 kali). Rebusan daun jambu biji menunjukkan efektivitas tertinggi dengan frekuensi diare rata-rata 6,7 kali dan onset terapi 1,2 jam, diikuti kombinasi rebusan (8,3 kali; 1,5 jam) dan rebusan daun salam (9 kali; 1,7 jam). Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok pada frekuensi diare (p = 0,029), sedangkan onset terapi tidak berbeda bermakna secara statistik (p = 0,257). Disimpulkan bahwa rebusan daun jambu biji memiliki efektivitas antidiare paling baik dan berpotensi sebagai alternatif terapi diare yang aman dan alami.</p> 2026-08-29T00:00:00+08:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.itkesmusidrap.ac.id/JUFAL/article/view/2011 I Jurnal artikel ilmiah 2026-08-29T15:06:30+08:00 intan nur aini inuraini570@gmail.com <p></p> <p class="s17"><span class="s11"><span class="bumpedFont15">Demam merupakan respons fisiologis tubuh yang paling sering dijumpai pada berbagai penyakit infeksi dan menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat Indonesia. Penggunaan antipiretik sintetik dalam jangka panjang berisiko menimbulkan efek samping sehingga diperlukan alternatif bahan alam yang lebih aman, salah satunya bunga cengkeh (Syzygium aromaticum L.) yang mengandung eugenol, flavonoid, tanin, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antipiretik ekstrak etanol bunga cengkeh pada mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi demam. Penelitian merupakan eksperimen laboratorium menggunakan 25 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kontrol negatif (Na-CMC 0,5%), kontrol positif (parasetamol 1,3 mg/kgBB), serta ekstrak etanol bunga cengkeh dosis 250, 500, dan 1000 mg/kgBB. Demam diinduksi menggunakan suspensi pepton 20% secara intraperitoneal, dan suhu rektal diukur setiap 30 menit selama 120 menit setelah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk, Levene, One Way ANOVA, dan dilanjutkan uji Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dosis ekstrak menurunkan suhu rektal mencit secara bermakna dibandingkan kontrol negatif (F=123,595; p=0,000), dengan penurunan suhu tertinggi pada dosis 1000 mg/kgBB (0,33°C), diikuti dosis 500 mg/kgBB (0,25°C) dan dosis 250 mg/kgBB (0,23°C), meskipun ketiganya masih lebih rendah dibandingkan parasetamol (0,36°C). Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol bunga cengkeh memiliki aktivitas antipiretik pada mencit yang diinduksi pepton, dengan dosis 1000 mg/kgBB sebagai dosis paling optimal.</span></span></p> <p>&nbsp;</p> 2026-08-29T14:48:19+08:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.itkesmusidrap.ac.id/JUFAL/article/view/1446 I IDENTIFIKASI SENYAWA FRAKSI DAUN KAKAO (Theobroma cacao L.) MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI DAN SPEKTROFOTOMETRI 2026-08-29T15:06:30+08:00 leni nur aliani leninuraliani13@gmail.com <p>Indonesia merupakan negara tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk potensi sumber daya alam seperti daun kakao (<em>Theobroma cacao</em> L.) yang mengandung berbagai senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dalam fraksi daun kakao melalui pendekatan fraksinasi, kromatografi, dan spektrofotometri UV-Vis. Proses dimulai dengan ekstraksi menggunakan pelarut etanol 70%, kemudian dilakukan fraksinasi cair-padat dengan pelarut n-heksan, etil asetat, etanol, dan akuades. Identifikasi senyawa dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan KLT Preparatif (KLTP), diikuti analisis kuantitatif kadar flavonoid menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 417 nm dengan kuersetin sebagai pembanding. Hasil menunjukkan bahwa fraksi etil asetat dan etanol mengandung senyawa alkaloid, steroid, dan flavonoid, dengan kadar flavonoid total tertinggi pada fraksi etil asetat sebesar 9,474 mg/mL QE. Analisis KLT memperlihatkan pola fluoresensi yang serupa dengan kuersetin, terutama pada fraksi etanol. Nilai Rf yang diperoleh berada dalam rentang yang baik (0,2–0,8), mengindikasikan keberhasilan pemisahan senyawa. Kesimpulannya, daun kakao memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif alami, khususnya flavonoid, yang dapat dikembangkan untuk aplikasi di bidang farmasi dan kesehatan.</p> 2026-08-29T15:06:10+08:00 ##submission.copyrightStatement##